Forever Young (2)

 

Forever Young
Forever Young/Pixabay_jplenio

Suhu di bawah 0οC dari arah punggungku semakin mengganggu. Aku memberanikan diri untuk kembali menganggkat kamera sambil melirik melalui bulu mata. Mengintip siapa yang tengah berada di balik batang pohon besar ini.

Aku berpura-pura tersenyum ke arah kamera, lalu kembali mengambil gambar dengan tanganku yang bergetar. Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada aku dan hembusan angin senja. Lalu dari mana asal hembusan beku itu? Jika saat ini saja udara di ujung hidungku masih terasa hangat.

            Mungkin aku hanya lelah dengan semua perjodohan yang dilakukan orang-orang terdekatku. Kumatikan aplikasi kamera di gawai; 6:00 P.M, penanda waktu yang muncul di telepon genggamku sebelum akhirnya kumatikan dan memasukkan benda itu dalam tas. Aku memutuskan untuk pulang. Tubuhku butuh istirahat.

             Melaju bersama si putih di saat seperti ini adalah pilihan yang melelahkan. Namun, aku tidak memiliki pilihan, kan. Kumpulan kendaraan bermotor di sampingku membentuk barisan kemacetan di belakang lampu lalu lintas yang berwarna merah. Lampu lalu lintas itu seakan betah untuk tetap memancarkan warna merah dan beralih terlampau cepat ketika sudah berwarna hijau. Aku terjebak dalam 2x lampu merah sekarang. Di lampu hijau yang ketiga, aku dan si putih baru bisa meninggalkan antrian kendaraan lain yang masih berjibaku dengan kemacetan. Benar-benar melelahkan.

            Setelah melewati perjalanan yang cukup menguras kesabaran akibat pengguna jalan yang tidak tertib, aku pun tiba di kontrakan.

Sebuah rumah yang di dominasi warna putih. Bangunan ini tidak memiliki banyak fasilitas. Hanya sebuah dapur, ruang tamu, dan 2 kamar tidur. 1 kamar tidurku dan 1 lagi adalah kamar tamu yang masing-masing dilengkapi kamar mandi. Orang tua dan saudaraku terkadang menginap di sini. Barang elektronik di sini juga tidak banyak tapi sangat cukup untuk membantuku. Ada TV, kulkas 2 pintu, pendingin ruangan, mesin cuci dan kipas angin.

Setelah memarkir si putih, aku langsung menuju kamar dan meletakkan tasku asal. Lalu meraih handuk untuk segera mandi. Namun, satu denting ponsel menghentikan aktivitasku.

 

From: geofanihj@gmail.com

            To: alikagv@gmail.com

           

Dear Alika,

            Apa kau sudah membaca pesanku? Kuharap harimu menyenangkan. Terima kasih karena telah bekerja keras hari ini. Jangan lupa untuk mengapresiasi diri sendiri. Oh ya, bagaimana jika kita makan malam diluar malam ini? Ya… itung-itung sebagai apresiasi atas perjuanganmu hari ini, aku ingin menraktirmu makan. Disamping itu, kita juga bisa lebih saling mengenal.

Bagaimana?

Giovani.

Kulempar gawai itu ke atas ranjang. Dasar orang sinting! Bagaimana mungkin aku mau makam malam dengan orang yang mendapatkan e-mail-ku dari jejaring sosial. Lelaki itu benar-benar!

**

Ball room hotel tempatku bekerja telah dipenuhi tamu undangan. Dekorasi cantik dan beragam makanan mewah menggambarkan betapa meriahnya acara yang tengah berlangsung. Sebuah pesta pernikahan. Aku mengenakan gaun berwarna pink dengan banyak taburan mutiara dan kristal. Aku begitu bahagia, senyum 10 senti tidak henti menghiasi wajah. Rekan-rekan kerjaku, Dona, Azka, Susan, chef Adrian, chef Shane—guruku, Pak Joko—bos besar yang menggajiku setiap bulan, dan sebagian besar tamu undangan juga tersenyum bahagia.

Seorang pemuda berparas tampan menghampiriku. Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun, ia tidak terlihat asing. Mata sipitnya terbingkai dengan alis hitam. Lelaki itu memiliki hidung dan rahang yang… sempurna. Rambutnya yang tertata rapi senada dengan alisnya, berwarna jelaga. Bagiku, ia kelewat fatamorgana untuk kutemukan dalam dunia nyata.

Baca Juga: Forever Young (1)

Senyumnya yang begitu tulus menghipnotisku. Dengan sukarela aku mengalungkan tangan kiri di lengan berototnya yang dibalut tuxedo. Kami tersenyum, merasa sangat… bahagia. Kami berjalan di atas karpet merah yang tergelar di tengah ruangan, membelah para tamu hadirin yang tengah berbincang. Seluruh mata seakan berpusat padaku dan lelaki di sampingku.

Tidak sedikit yang mengabadikan moment ini dengan kamera di gawai mereka. Ucapan selamat dan doa-doa baik mengudara di pendengaran. Butuh beberapa saat untuk menyadari kalau… aku tengah berperan sebagai mempelai wanita dari pria titisan Dewa Yunani di sampingku.

            Kini satu persatu hadirin membentuk sebuah barisan panjang untuk menyalami kami. Banyak di antara mereka yang tampak asing di penglihatanku. Aku menduga mereka adalah tamu dari suamiku. Suami, satu kata itu terasa benar-benar canggung di lidahku.

            Aku menoleh ke arahnya yang sedang bersalam dengan tamu hadirin. Suara ramahnya terdengar renyah di telingaku. Setelah mengucap beberapa basa-basi sebagai bentuk kesopanan, kenalan suamiku itu pun berlalu.

            Pemuda ini tidak hanya tampan, tapi juga ramah dan sangat bisa membaur dengan siapa pun. Tidak hanya dengan teman sebaya, tetapi juga mereka yang lebih muda dan para orang tua. Kepada mereka yang memiliki jabatan penting seperti Pak Joko, ia juga terlihat tidak canggung sama sekali. Sedikit berbeda denganku yang tidak bisa menyembunyikan kekakuan di hadapan orang baru kukenal.

            Kakiku mulai letih. Tamu yang memenuhi ball room ini seakan tidak berkurang melainkan terus bertambah. Aku mencoba tetap menampilkan senyum ramah di tengah letih yang menyerang.

“Alika, kau lelah?” Suamiku mengajak berbicara. “Ini tidak akan lama, bertahanlah.” Senyuman pria ini lagi-lagi seperti candu dan mampu menghipnotisku untuk mengikuti perintahnya.

Aku membalas senyumannya dengan degup jantung menggila. Sepertinya, aku tengah jatuh cinta, lagi. Setelah sekian lama pintu hatiku kututup rapat dari lelaki mana pun yang mencoba mendekatiku. Kali ini aku harus mengaku kalah. Lelaki di sampingku ini, hanya ia yang berhasil memporak-porandakan pertahananku.

Lelaki ini, ia terlihat sangat berbeda. Aku menduga-duga ia tampak seperti… malaikat. Wajahnya menampilkan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak cerewet tapi juga tidak irit bicara. Ia mampu bersikap hangat dan menenangkan, hal yang tidak sembarang orang dapat lakukan. Bahkan mantan kekasihku tidak bisa melakukan sebaik suamiku melakukannya. Ada kekuatan magis dalam sorot mata cokelatnya. Dan aku sama sekali tidak menyesal berkesempatan memilikinya, selamanya.

Sebuah sinar yang sangat menyilaukan membuatku memicing dan tersentak. Aku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari. Semua hal indah yang kualami barusan hanyalah sebuah bunga tidur. Ingatanku meremang. Aku kembali terpejam, berusaha mengingat rentetan rekaman di alam bawah sadarku barusan. Namun, nihil. Aku mengerang frustasi sambil mengusap wajahku agresif. Mengapa mimpi seindah itu harus hilang dari ingatan?

Setelah mengumpulkan seluruh kesadaran, kuraih ponselku di atas nakas. Jari-jariku menari di atas layarnya yang berkilau. Menciptakan sederet kalimat di aplikasi chat online yang sedang aktif.

Alika Geraldine V.: Ma, mulai sekarang Alika bisa cari jodoh sendiri. Jangan khawatir ya, Ma. Alika baik-baik aja. Kalau Mama percaya sama Alika, Alika juga akan percaya dengan diri Alika sendiri.

Alika Geraldine V.: Don, mulai sekarang, kamu sama anak-anak nggak udah jodoh-jodohin aku lagi, ya! Jodoh aku udah dateng!

Perasaan lega memenuhi rongga dada setelah mengirim dua pesan berbeda itu. Mimpi memang hanya sebuah bunga tidur. Namun tidak untuk kali ini. Aku yakin sesuatu yang besar tengah menantiku.

Dering ponsel mengalihkan pikiranku. Sebuah pesan balasan dari Dona.

Si Rajin Dona: Yang bener, Al? Aku ikut seneng kalo gitu. Mulai sekarang, aku udah nggak perlu khawatir sama kamu.

Aku berharap agar sahabatku itu tidak menaruh curiga atas isi pesan singkatku barusan. Pesan dari mama menyusul balasan pesan dari Dona.

Mama: Mama ngerasa, kalau jodoh kamu memang sedang mendekat, Nak. Mama cuma bisa berdoa untuk kamu. Berbahagialah, Alika.

Semoga semesta memudahkan semuanya, Ma.

**

Comments

  1. Membaca cerita ini membuat saya larut dalam tokoh Alika. Sukses, Kak

    ReplyDelete
  2. Alika dan perjodohan. Cerita yang unik, karena beberapa tokoh terdekat Alika begitu getol menjodohkan Alika. Semoga Alika bertemu seseorang yang benar-benar melengkapi satu sama lain

    ReplyDelete
  3. Aku merasakan bagaimana rasanya menjadi Alika, memasuki usia hampir 30 an tapi belum juga nikah, Dibilang picky engga juga, hanya belum menmukan yg pas di hati saat itu. nasib wanita seperempat abad lebih, heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera mendapatkn jodohnya ya kk. Pas nulis cerita ini aku jd semakin sdar klau cerita hidup kita emang sudah ada garisnya. Kalau 'penulisnya' belum kasih tokohnya jodoh ya emang belum. Jd tugas kita sbg tokoh utama d crita hidup msg2 ya trs lewatin bab demi babnya sampai akhirnya ketemu di titik penulisnya emg sdh siapin smwnya kok

      Delete
  4. Jujur awalanya kurang paham terlebih ini bagian kedua tapi pas baca bagian pertama jadi paham.
    Ceritanya bagus, Kak.
    Jangankan umur 30-an, umur 20-an kalo belum punya pacar aja sering dijodoh-jodohkan sama temen kerja😅

    ReplyDelete
  5. Saya masih bingung dengan adanya stigmatisasi tentang usia dan menikah.
    Bukankah sedari kecil kita diajarkan bahwa rezeki, maut, dan jodoh adalah kuasa-Nya?
    Jadi, manakala usaha telah maksimal dilakukan, lantas apa lagi yang masih dikhawatirkan?

    ReplyDelete
  6. Alika dan polemik perjodohannya adalah cerita yang menarik. Semoga Alika dapat dipertemukan dengan jodoh yang akan, bisa dan cocok untuk membimbingnya nanti.

    ReplyDelete
  7. Perjodohan memang sudah ada sejak zaman dahulu, hal itu kebanyakan membuat dari satu pihak merasa tidak ingin perjodohan itu dilakukan. karena ada nya ketidak cocokan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ky temenku jg gtu. Tiap dijodohin mesti ga cocok

      Delete
  8. Jodoh emang gak perlu dicari ya, kalo jodoh pasti mendekat sendiri

    ReplyDelete
  9. Banyak terjadi di sekitar kita ngejodoh-jodohin orang. Bukannya berakhir baik malah berakhir buruk dan merenggangkan hubungan. Semoga kita gak perlu cemas dengan perkara jodoh ya. Ceritanya seruuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mkasih sdh bca kak. Kta org, fiksi bnyak yg terinspirasi dr kejadian nyata sih kak

      Delete
  10. Setiap orang punya waktu yang berbeda dalam menemukan jodohnya. Ada yang cepat, ada yang lambat. Bagi yang lambat tidak perlu putus asa, tetap yakin, kalau sudah waktunya jodoh itu pasti datang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ummah bner bgt. Menurut org yg sdh berpengalaman sih gtu

      Delete

Post a Comment